Teruntuk Rahne Putri, Kakakku Tersayang.

Teruntuk Rahne Putri,
Kakakku tercinta
Mbak putri,
kiranya mbak Putri mengerti, bila kita dibesarkan dari keluarga sederhana yang bahagia. Kedua orang tua kita insinyur yang hebat, berbagai macam ujian pernah kita hadapi bersama, segala jalanan hidup pernah kita cicipi semua. Tak pernah lelah aku membanggakannya. Bila boleh aku bercerita, ingin rasanya aku mengulang masa-masa kecil kita dulu.
kita ketika masih unyu
kita ketika masih unyu
Baiklah, aku akan mencoba menggali ingatan masa kecil kita dulu. Kita berdua dulu sering bertengkar bukan? Entah sudah berapa kali ibu melerai pertengkaran kita, entah itu karena kita rebutan remote TV atau masalah sepele lainnya, aku bahkan masih ingat tontonan favoritmu, dulu kau suka sekali menonton Film dewa judi, yang main andy lau, sosok panutanku untuk mengubah gaya rambutku menjadi belah tengah sewaktu kecil, atau film vampir cina, di mana vampir-vampirnya baru bisa diam bila jidatnya sudah ditempeli tulisan kanji. Juga tak lupa kartun favoritmu, apalagi kalau bukan sailoormoon.
Vampir-vampiran
Vampir-vampiran
Tontonan favoritmu, dewa judi.
Tontonan favoritmu, dewa judi.
Apa mbak putri masih ingat ketika SD dulu? Kita diantar jemput naik becak, bila sudah tanggal satu, kita selalu senang karena itu tanggal gajian romo dan ibu, dan kita pasti diajak jalan-jalan dan berakhir dengan makan di restoran. Dan apa Mbak putri masih ingat juga ketika SMP, kita punya pembantu yang hobinya kesurupan? Yang setiap mati lampu, dia meneteskan tetesan lilin di tangannya? Aku lupa siapa namanya, tapi bila saat ini aku menemukannya, ingin sekali kudaftarkan ke Indonesia Mencari Bakat sebagai manusia lilin.
Namun semakin tumbuh besar, kita semakin tambah dewasa. Setelah lulus kuliah, kau memilih pergi ke ibukota, atau mungkin juga tak ada pilihan lain ketika itu. Berada jauh darimu tak membuatku lelah tuk memikirkanmu, sebagai seorang adik laki-laki, tentu saja aku memikirkan tentang naik apa kau ke tempat kerjamu, jam berapa kau pulang, apa sudah makan kau malam ini, bagaimana bila malam-malam kelaparan, siapa yang menemanimu kesana-kemari, apa kau mendapat tempat duduk atau berdesak-desakan di bis kopaja, apa masih ada uang di dompetmu, serta kecemasan-kecemasan lainnya. Kita sama-sama mengerti, bila apa yang kita lakukan ialah untuk keluarga kecil kita. Jakarta ibukota yang buas, tak pernah lupa aku selalu berdoa agar kau dijauhkan dari segala taring dan terkamannya.
Begitu pula aku di sini, setelah lulus SMA aku merantau ke Balikpapan. Di sini, aku memulai segalanya dari nol, sesambil kuliah, berbagai macam pekerjaan telah aku cicipi, dari menjadi cleaning service di hotel, pelayan di restoran, sampai menjadi sales di jalan-jalan, hingga pada akhirnya Alhamdulillah aku lulus dan sekarang pekerjaanku jauh lebih baik, juga sudah memiliki beberapa anak buah. Dan aku selalu memahami bila keluarga ialah sebaik-baiknya arah pulang, bila pulangku bukan ke keluarga, berarti aku masihlah pergi. Tanpa kita sadari, dari apa yang sudah-sudah kita jalani, kita menjadi terlatih dalam berbagai situasi.
Lima oktober yang lalu, kau menikah. Akhirnya, hari itu datang juga. Akhirnya, kamu menemukannya. Akhirnya, ia menemukanmu. Akhirnya, kalian dipertemukan. Andai kau tahu betapa bahagianya dan leganya aku ketika kau menikah. Ketika kau telah menemukannya, ia yang juga ingin menemukanmu.
Sekarang, sudah ada yang menjagamu, sekarang, kau sudah memiliki Imam, kau sudah memiliki nahkodamu sendiri, kau sudah menjadi rumah untuk seseorang. Namun ingat, sebelum kau sehati dengannya, aku sudah terlebih dahulu satu rahim denganmu. Setelah Ibu, dan Romo, akulah manusia yang paling mengenalmu.
Bulan depan, sama sepertimu dua bulan yang lalu, aku akan menikahi seorang perempuan. Perempuan yang tulus bersedia berjuang denganku, menerima segala baik burukku, juga lebih kurangku. Seorang perempuan, seseorang telah menjadi tulang rusukku, dan aku kan menjadi tulang punggungnya. Seorang perempuan, yang karenanya aku selalu ingin memperbaiki diri.
Tak terasa kita sudah sebesar dan sedewasa ini, aku hanya ingin menegaskan bila aku bangga menjadi adikmu dan aku bangga kau menjadi kakakku. Aku telah membaca suratmu, dan karenanya aku sesambil tersenyum menulis ini. Baiklah, mungkin cukup sekian, bila bertemu nanti, tak sabar untuk aku lanjutkan lagi.
Adikmu,
K

4 thoughts on “Teruntuk Rahne Putri, Kakakku Tersayang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s